Jumat, Juli 20, 2012

Lompat Jauh

Pengertian
Lompat jauh adalah salah satu nomor lompat yang diperlombakan dalam cabang olahraga atletik dengan jauhnya lompatan sebagai tujuan. Dalam nomor ini pelompat melakukan suatu rangkaian gerakan lari awalan, tolakan, melayang di udara dan mendarat.
Semua nomor lompat dalam cabang olahraga atletik terbagi atas empat aspek teknis yang sama yaitu awalan, tolakan, melayang di udara dan mendarat. Adapun keberartian dari empat aspek tersebut bergantung pada nomor spesialisasinya.
Mengenai aspek teknik dalam nomor lompat jauh adalah sebagai berikut:
1.      Phase Awalan
Lari awalan dilakukan dengan kecepatan yang meningkat secara progresif sampai menjelang saat tolakan (take-off). Pada langkah akhir ada sedikit penurunan titik pusat gravitasi dalam persiapan untuk tolakan.
 2.      Phase Tolakan
Tolakan ini dilakukan dengan cara hop atau berjingkat pada balok atau papan tolak. Hentakkan kaki pada saat bertolak harus terjadi pada sol kaki dengan tumit menyentuh tanah, pinggang sedikit ke depan dan kaki penolak sedikit bengkok kemudian diluruskan dengan cepat dan kuat sesaat titik pusat gravitasi melewati di atas kaki tumpu. Posisi badan harus tinggi dengan kecondongan antara 17 – 23o dan mempertahankan sikap take-off ini setelah lepas dari papan tolak. Kaki tolak dalam keadaan rilek selama melayang di udara.
3.      Phase Melayang di Udara
Pada saat tubuh berada di udara, tubuh dalam keadaan seimbang dan bergerak sesuai lintasan parabola titik berat badannya. Kedua kaki dibengkokkan dan rilek. Selanjutnya pertahankan keseimbangan badan sampai menjelang pendaratan. Pada phase ini dapat dilakukan beberapa gaya lompatan, bergantung kebiasaan dan kemampuan pelompat.
 4.      Phase Mendarat
Mendarat dengan kedua kaki pada bagian telapak kaki, togok dalam keadaan sedikit condong ke depan sehingga titik berat badan berada di depan bidang tumpuan.

Komponen Kondisi Fisik Dalam Lompat Jauh

Aspek kondisi fisik merupakan aspek yang paling mendasar bagi pengembangan aspek-aspek lainnya dan memberikan peranan yang sangat penting dalam pencapaian suatu prestasi olahraga. Hal ini oleh Harsono (1988:153) dijelaskan, “Sukses dalam olahraga sering menuntut keterampilan yang sempurna dalam situasi stress fisik yang tinggi, maka semakin jelas bahwa kondisi fisik memegang peranan yang sangat penting dalam meningkatkan prestasi atlet.”
Moeloek (1984:12) menyatakan bahwa, “Peningkatan yang diperoleh dari latihan fisik dapat dilihat antara lain berupa peningkatan kemampuan gerak, tidak cepat merasa lelah, peningkatan keterampilan (skill) dan sebagainya.” Kemudian Sajoto (1988:16) mengemukakan, “Kondisi fisik adalah salah satu persyaratan yang sangat diperlukan dalam usaha peningkatan prestasi seorang atlet bahkan dapat dikatakan sebagai keperluan yang tidak dapat ditunda-tunda atau ditawar-tawar lagi.”
Beberapa penjelasan di atas menegaskan bahwa kondisi fisik merupakan bagian yang paling mendasar dalam usaha meningkatkan prestasi seorang atlet. Oleh karena itu dalam proses pelatihan cabang olahraga perlu adanya penekanan pada aspek fisik dengan tidak mengenyampingkan kondisi-kondisi lainnya seperti teknik, taktik dan mental.
Mengenai komponen-komponen kondisi fisik oleh Setiawan (1991:112) dijelaskan, “Unsur pokok kondisi fisik itu adalah: 1) daya tahan jantung-pernafasan-peredaran darah, 2) kelentukan persendian, 3) kekuatan, 4) daya tahan otot, 5) kecepatan 6) agilitas, dan 7) power.” Kemudian Giriwijoyo (1992:44) mengemukakan sebagai berikut:


            … komponen-komponen itu sesungguhnya terdiri dari:
o   komponen anatomical fitness: body composition,
o   kondisi kesehatan statis: biological function,
o   komponen physiological fitness yang terdiri dari:
-        kemampuan/kualitas dasar ES I:
1.      muscle strength
2.      muscle explosive power
3.      muscle endurance
4.      flexibility
5.      reaction time
6.      coordination
7.      balance
-        kemampuan/kualitas dasar ES II:
1.      endurance
-        kemampuan penampilan yang merupakan gabungan dari berbagai kemampuan/kualitas dasar ES I:
1.      speed
2.      agility

Beberapa pendapat tersebut di atas terlihat adanya kesamaan mengenai komponen-komponen kondisi fisik. Dengan demikan dapat disimpulkan bahwa komponen-komponen fisik itu terdiri dari kekuatan, kecepatan, kelentukan, daya tahan dan gabungan dari beberapa komponen tersebut.
Dalam proses pelatihan kondisi fisik perlu memperhatikan tuntutan fisik dari cabang olahraganya. Oleh karena cabang olahraga yang menjadi objek penelitian ini adalah olahraga lompat jauh, maka komponen kondisi fisik yang dilatih pun harus sesuai dengan tuntutan cabang olahraga lompat jauh itu sendiri.
Komponen-komponen kondisi fisik yang dibutuhkan dalam olahraga lompat jauh merupakan komponen fisik yang didasarkan pada aspek-aspek yang menentukan hasil gerak lari dan melompat yaitu kekuatan dan kecepatan otot dalam mengatasi berat beban. Hal ini berarti bahwa tungkai sebagai salah satu subjek gerak dominan harus memiliki kekuatan dan kecepatan otot yang memadai. Perpaduan antara kekuatan dengan kecepatan disebut dengan istilah power. Berikut ini akan diuraikan tentang komponen kekuatan, kecepatan dan power.
1.      Kekuatan
Kekuatan merupakan dasar dari kondisi fisik yang sangat berperan dalam pencapaian suatu prestasi. Hampir setiap cabang olahraga membutuhkan kekuatan dalam usaha memperoleh hasil yang lebih baik. Tentang hal ini oleh Harsono (1988:177) dijelaskan sebagai berikut:

Kekuatan otot adalah komponen yang sangat penting (kalau bukan yang paling penting) guna meningkatkan kondisi fisik secara keseluruhan. Mengapa? Pertama, oleh karena kekuatan merupakan daya penggerak setiap aktivitas fisik. Kedua, oleh karena kekuatan memegang peranan yang penting dalam melindungi atlet/orang dari kemungkinan cedera. Ketiga, oleh karena dengan kekuatan atlet akan dapat lari lebih cepat, melempar atau menendang lebih jauh dan lebih efisien, memukul lebih keras demikian pula dapat membantu memperkuat stabilitas sendi-sendi.

Adapun pengertian atau batasan dari kekuatan itu sendiri oleh Giriwijoyo (1992:65) dijelaskan, “Kekuatan adalah kemampuan otot untuk mengembangkan tegangan maksimal tanpa memperhatikan faktor waktu.” Kemudian Harsono (1988:176) menyatakan, “Strength adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap sesuatu tahanan.” Selanjutnya Wessel (1973:3) mengatakan, “Muscular strength in human movement is the ability to exert to overcome to resistance.” Dengan demikian maka jelaslah bahwa kekuatan adalah komponen kondisi fisik dasar dan memberikan peranan yang sangat penting terhadap pencapaian suatu prestasi.
Hubungan kekuatan otot tungkai dengan prestasi dalam olahraga lompat jauh diduga positif, karena tanpa kekuatan tungkai maka seorang pelompat tidak akan dapat melakukan gerakan meluruskan tungkai dengan kuat pada saat teknik tolakan. Sebaliknya apabila otot tungkai memiliki kekuatan yang memadai maka pada saat melakukan gerakan meluruskan tungkai, gerakannya akan kuat dan membantu pergerakan badan ke depan atas pada saat melakukan tolakan sehingga gaya dorong semakin besar.

2.      Kecepatan
Salah satu komponen fisik yang sangat penting bagi olahraga lompat jauh adalah kecepatan (speed). Hal ini dikarenakan dalam olahraga lompat jauh dituntut kecepatan terutama dalam melakukan lari awalan dan pada saat perpindahan phase setiap teknik. Berkenaan dengan kecepatan, Harsono (1988:216) menjelaskan, “Kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis secara berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.” Kemudian Hidayat (1990:41) menjelaskan, “Kecepatan adalah perbandingan antara jarak (panjangnya lintasan) dan waktu (lamanya gerak).”
            Berdasarkan penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan kecepatan maka pelaksanaan lari awalan dan perpindahan phase tiap teknik akan lebih baik lagi, sehingga akan terjadi koordinasi gerak yang baik pula.

       3. Power
Power merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang dibutuhkan oleh hampir semua cabang olahraga terutama yang menuntut daya ledak otot seperti nomor lompat dalam cabang atletik, beladiri, olahraga permainan dan lain-lainnya. Tentang hal ini oleh Harsono (1988:200) dijelaskan:

Power terutama penting untuk cabang-cabang olahraga dimana atlet harus mengerahkan tenaga yang eksplosif, seperti nomor-nomor lempar dalam atletik dan melempar bola softball. Juga dalam cabang-cabang olahraga yang mengharuskan atlet untuk menolak dengan kaki, seperti nomor-nomor lompat dalam atletik, sprint, voli (untuk smes), seperti balap lari, balap sepeda, mendayung, renang dan sebagainya.

Adapun pengertian atau batasan dari power itu sendiri oleh Sharkey (1988:42) dijelaskan, “Power is essential quality in many sport, for it represent the effective combination of strength at speed.” Kemudian Pear dan Moran (1986:57) mengatakan, “Power is something defferent. Power = strength + speed.” Selanjutnya Willmore (1993:539) menyatakan, “Power is the product of force and velocity.” Begitupun Harsono (1988:200) mengemukakan, “Power adalah kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat.”
Peranan power terhadap kemampuan tungkai dalam melakukan lari awalan dan tolakan sangatlah penting. Hal ini tergambar pada saat pelompat melakukan tolakan ke tanah baik pada saat lari maupun pada saat phase tolakan. Kaki bergerak secara eksplosif untuk melakukan gerakan yang sama berturut-turut (lari) yang selanjutnya menolakkan kaki pada papan tolak untuk menghasilkan gaya dorong ke udara seefektif dan seefisien mungkin. Dengan demikian maka dapat dikatakan bahwa power adalah salah satu komponen kondisi fisik yang sangat menentukan terhadap hasil lompatan.
Berdasar pada uraian-uraian di atas, maka power dalam hal ini adalah power tungkai harus diberikan perlakuan atau latihan agar tungkai sebagai subjek gerak utama memiliki power yang relatif tinggi dan dapat bergerak secara eksplosif.

Jumat, Juli 13, 2012

Latihan Terpusat dan Latihan Acak Pada Olahraga Tenis Lapangan

           Tenis lapangan merupakan salah satu cabang olahraga yang memiliki beberapa keterampilan teknik yang harus dikuasai diantaranya keterampilan pukulan forehand dan backhand sebagai keterampilan dasar dalam olahraga tenis. Salah satu pengaturan latihan untuk menguasai keterampilan yang komplek adalah dengan penggunaan latihan terpusat (blocked practice). Mahendra dan Ma’mun (1998:211) menyatakan, “Pengaturan latihan terpusat dilaksanakan dengan mendahulukan satu tugas hingga selesai sebelum berpindah ke tugas lainnya.” Kemudian Otte dan Zanic (2008) menjelaskan, “Blocked practice sessions concentrate on one aspect of technique, practicing it over and over again until you get it right.” Maksudnya adalah latihan terpusat memfokuskan pada satu aspek teknik, latihan dilakukan secara berulang-ulang sampai teknik dikuasai dengan baik. Wright dan Shea (2000) menjelaskan, “Specifically, blocked-practice participants displayed superior performance during training.” Maksudny adalah secara rinci peserta latihan menggunakan latihan terpusat menunjukkan pencapaian yang tinggi selama latihan. Kemudian Bilalovic (2007) menjelaskan, “Such practice gives learners time to concentrate on the performance of each task, so that they can improve or if necessary, correct one skill before proceeding to the next.” Maksudnya adalah latihan semacam itu memberi waktu kepada siswa untuk berkonsentrasi pada pencapaian dari tiap tugas, sehingga mereka dapat meningkatkan keterampilan yang penting sebelum meneruskan keterampilan yang berikutnya.Ilustrasi dalam penyampaian materi latihan pukulan forehand dan backhand dalam olahraga tenis adalah sebagai berikut: pelatih mengambil keputusan untuk melatih kedua keterampilan dengan cara menyuruh peserta didik melatih keterampilan pukulan forehand (tugas A) dulu. Peserta didik disuruh menyelesaikan latihan tugas A sebanyak 50 kali misalnya. Setelah tugas A selesai, peserta didik baru diminta untuk melatih keterampilan pukulan backhand (tugas B). Jumlah pengulangan sama, yaitu 50 kali.Dari pengaturan seperti di atas dapat disimpulkan bahwa pengaturan latihan melalui latihan terpusat dilaksanakan dengan mendahulukan satu tugas hingga selesai sebelum berpindah ke tugas lainnya. Mahendra dan Ma’mun (1998:212) mengemukakan, “Latihan terpusat banyak dipakai oleh guru atau pelatih karena dianggap memungkinkan atlet berlatih secara terfokus, yaitu melatih satu keterampilan berulang-ulang tanpa terganggu kegiatan lain.”
          Pendekatan latihan lainnya adalah melalui latihan acak. Latihan acak ini menghendaki peserta didik melakukan berbagai kegiatan latihannya dalam satu waktu, tanpa dipisah-pisahkan oleh jenis keterampilannya. Adapun ilustrasi yang dapat digambarkan adalah sebagai berikut: Pelatih mengatur latihannya dengan meminta atletnya agar melakukan latihan kedua jenis keterampilan secara sekaligus dan secara berselang-seling. Setelah peserta didik melakukan pukulan forehand satu kali berikutnya ia melakukan pukulan backhand satu kali. Pergantian jenis pukulan ini dilakukan secara berulang, misalnya masing-masing jenis pukulan sebanyak 50 kali, sehingga secara keseluruhan jumlah pukulan tersebut sama dengan jumlah yang harus diselesaikan melalui latihan terpusat.Bilalovic (2007) menjelaskan, “You might be surprised if I say that the random practice is better then the blocked practice. But the truth is, or what researches studies indicate, that the blocked practice produce effective performance only during initial rehearsal, but does not create lasting learning.” Maksudnya adalah kamu mungkin terkejut jika saya katakan bahwa latihan acak lebih baik dibandingkan latihan terpusat. Tetapi ini adalah kebenaran, studi penelitian mengindikasikan bahwa latihan terpusat menghasilkan pencapaian efektif hanya selama latihan awal, tetapi tidak menciptakan hasil dalam jangka waktu yang lama.Kemudian Lee & Magill (1985) dalam Otte dan Zanic (2008) menjelaskan bahwa, “Under random practice conditions participants may find it more efficient, especially when the task variations are similar, to structure all the task variations the same. This would functionally reduce the reconstruction cost from trial to trial.” Maksudnya adalah latihan acak lebih efesien, terutama saat variasi tugas serupa, ke struktur semua variasi tugas yang sama. Ini secara fungsional mengurangi pemborosan dari satu percobaan ke percobaan lainnya. Selanjutnya Wilde dan Shea (2000) menjelaskan, “The data suggest that random practice results in participants adopting a uniform response structure.” Maksudnya adalah data menyatakan bahwa latihan acak mengakibatkan peserta mengadopsi suatu struktur tanggapan yang seragam. Dalam hal ini pencapaian yang akan diperoleh siswa relatif akan sama atau merata.

Minggu, Juni 24, 2012

OLAHRAGA JUDO

        Olahraga beladiri saat ini mengalami perkembangan yang cukup pesat di tanah air, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, Surabaya, Medan dan Banjarmasin. Mulai dari olahraga beladiri yang bersifat tradisional sampai dengan olahraga beladiri yang diciptakan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di masa mendatang, dan mulai dari olahraga beladiri yang bersifat kesehatan sampai dengan olahraga beladiri yang bersifat prestasi.
       Judo merupakan salah satu olahraga beladiri yang dikembangkan dan dibina bukan saja untuk meningkatkan kebugaran jasmani, melainkan juga digunakan untuk membina mental dan kepribadian seseorang. Bahkan judo merupakan olahraga yang dapat mengharumkan nama bangsa di kancah olahraga internasional melalui prestasi-prestasi, seperti yang ditunjukkan oleh atlet-atlet judo pada even olahraga internasional seperti Sea Games dan Asian Games.
Olahraga judo diciptakan pada tahun 1882 oleh Jigoro Kano. Judo merupakan olahraga beladiri yang berasal dari Jujitsu atau disebut Yawara dan Taijutsu.  Keduanya merupakan jenis Bujutsu (seni beladiri tradisional Jepang), yaitu perkelahian tangan kosong. Taijutsu dan Yawara adalah suatu sistem serangan yang melibatkan bantingan, pukulan, tendangan, cekikan, patahan sendi, memutar pinggang, menjatuhkan lawan dan bertahan sewaktu diserang dengan tangan kosong.
            Mengenai arti dan asal kata Judo oleh Jigoro Kano (1989:16) dijelaskan sebagai berikut:
The word jujutsu and judo are each written with two Chinese characters. The Ju in both is the same and means “gentleness” or “giving way”. The meaning of Jutsu is “art, practice”, and Do means “principle” or “way”, the way being the concept of life it self. Jujutsu may be translated as “the gentle art”, judo as “the way of gentleness”, with the implication of first giving way to ultimately gain victory.

            Penjelasan di atas dapat diartikan bahwa kata jujitsu dan judo ditulis dalam dua bentuk huruf China. Kedua kata ju antara jujutsu dan judo memberikan pengertian yang sama yaitu lemah lembut atau memberikan jalan, jutsu bisa diartikan sebagai seni dan latihan, sedangkan do berarti prinsip atau cara yang menjadi konsep hidup sendiri. Jujutsu bisa diartikan sebagai seni yang “lemah lembut” dengan tujuan mengalah lebih dahulu untuk mencapai kemenangan. 
          Dachlan Elias (1987:70) menjelaskan tentang keistimewaan Judo sebagai olahraga beladiri bahwa, “Judo adalah olahraga yang universal, judo tidak mengenal macam-macam aliran, faham seperti olahraga lainnya”. Kemudian Noors (2000:8) menjelaskan, “Judo terdiri dari dua suku kata, yaitu Ju dan Do. Ju berarti halus atau lembut dan Do adalah cara atau jalan. Jadi kata Judo adalah cara yang halus atau jalan yang lembut.” Selanjutnya Kadir (1985:15) menjelaskan, “Tujuan Judo adalah untuk membina mental maupun fisik seseorang berjiwa kesatria yang disesuaikan dengan arti daripada Judo sendiri, yaitu Ju berarti kebenaran dan Do berarti jalan, jadi seorang pejudo itu haruslah berjalan pada garis yang benar sesuai dengan jiwa seorang kesatria.”

Minggu, Juni 10, 2012

Supporter Sepak Bola


Pada saat ini, organisasi-organisasi baik bersifat formal maupun non-formal banyak bermunculan. Begitu pula dalam dunia olahraga, khususnya sepakbola. Organisasi di luar klub sepakbola atau sering disebut komunitas supporter berdiri seiring berdirinya klub sepakbola. Keberadaan mereka sebagai wujud dukungan dan pemberi semangat bagi para pemain yang sedang bertanding. Dukungan yang diberikan pada umumnya bersifat moral, tetapi di Eropa atau di negara-negara maju, keberadaan komunitas supporter turut menentukan keberlangsungan suatu klub, karena komunitas ini pun turut memberikan andil dalam penentuan kebijakan klub, terutama dalam menentukan pemain ataupun pelatih.
Keberadaan supporter dalam pertandingan olahraga sepakbola merupakan salah satu faktor penting terutama berkaitan dengan dukungan terhadap motivasi bertanding para pemain sepakbola. Berkenaan dengan hal ini, Harsono (1988:251) menjelaskan, “Motivasi ekstrinsik tetap dapat merupakan dorongan yang kuat bagi seseorang untuk berusaha dan mencurahkan kemampuan yang maksimal, serta untuk berprestasi sebaik-baiknya.” Kemudian Alderman (1974) dalam Hidayat (2008:58) menyatakan, “Tidak ada prestasi tanpa motivasi.” Straub (1980) dalam Hidayat (2008:58) menyatakan pula, “Prestasi adalah perpaduan antara latihan dengan motivasi.”
Berdasarkan beberapa penjelasan di atas, maka dapat dinyatakan bahwa supporter merupakan salah satu motivasi ekstrinsik yang turut menentukan penampilan atlet di lapangan. Dukungan supporter yang begitu besar akan turut membantu dan mendorong atlet untuk tampil maksimal dan menciptakan prestasi yang sebaik-baiknya.
Keberadaan supporter sering ditemukan pada pertandingan-pertandingan olahraga. Sebagaimana namanya supporter yaitu orang yang memberikan dukungan, supporter tidak pernah merasa lelah dan selalu mendukung atlet atau klub yang dipujanya.
Hampir di setiap pertandingan olahraga, para supporter memberikan makna tersendiri. Walaupun secara langsung keberadaan supporter tidak mempengaruhi hasil pertandingan, tetapi diyakini bahwa supporter memberikan pengaruh terhadap kondisi dan penampilan atlet.
Dari apa yang dapat dilihat melalui berbagai media, baik cetak maupun elektronik, sering diinformasikan perilaku dan tindak-tanduk para supporter dalam pertandingan olahraga. Dan salah satu supporter olahraga yang menimbulkan fenomena tersendiri karena keberadaan dan jumlahnya yang relatif besar adalah supporter dalam pertandingan sepakbola.
Supporter pertandingan sepakbola saat ini merupakan supporter yang terorganisir. Keberadaannya berbeda dengan supporter cabang olahraga lainnya. Nama komunitas supporter, atribut, yel-yel, dan berbagai tanda lainnya yang melekat pada supporter memberikan nuansa yang berbeda dalam setiap pertandingan.
Pada pertandingan sepakbola sering dimeriahkan oleh ulah dan perilaku penonton atau supporter yang datang ke arena pertandingan dengan berbagai atribut dan bentuk kemeriahannya. Kehadiran para supporter dalam pertandingan sepakbola menggambarkan eksistensi komunitas supporter sebagai wujud dukungan  terhadap klub yang dipujanya.
Jawa Barat sebagai salah satu wilayah atau provinsi yang merupakan salah satu dari beberapa pusat pembinaan cabang olahraga di Indonesia, dikenal bukan saja karena prestasi dan kehandalan atlet-atletnya, tetapi saat ini dikenal pula karena keberadaan supporter cabang olahraga sepakbolanya.
Klub sepakbola di Jawa Barat yang tergolong besar dan sedang mengikuti kompetisi Liga Super Indonesia diantaranya adalah Persib Bandung. Sedangkan klub-klub yang mengikuti kompetisi pada divisi utama, divisi satu, divisi dua dan tiga relatif banyak karena diikuti oleh klub atas nama daerah kota dan kabupaten di Jawa Barat. Sesuai dengan banyaknya klub sepakbola di Jawa Barat, maka keberadaan dan jumlah supporter di Jawa Barat adalah cukup besar dan mungkin termasuk sebagai salah satu supporter dengan jumlah anggota yang paling besar di Indonesia.

Sabtu, Mei 26, 2012

Pengumuman Kelulusan UN 2012

Selamat dan Semoga Sukses Selalu bagi Siswa - Siswi SMA Negeri 26 Bandung atas Kelulusannya yang 100% ... 

Pengumuman Hasil UN 2012: Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Lampung

Jakarta, Bandung, Yogyakarta dan Lampung adalah kota kota yang menjadi sorotan sebagai kot yang memiliki pendidikan yang bagus, yang tiap tahunnya memiiki lulusan tertinggi 90 % -100%.

Menjelang pengumuman hasil ujian nasional (UN) siswa SMA sederajat pada Jumat, 26 Mei 2012, Dinas Pendidikan di indonesia banyak yang memilih meliburkan siswa kelas X dan XI pada hari tersebut.

 
Siswa kelas XII pun diimbau tidak mengenakan seragam sekolah dan tidak melakukan aksi coret-coret serta aksi kebut-kebutan di jalan pada saat pengumuman kelulusan sekolah nanti.
Hal itu ditegaskan oleh Dinas Pendidikan di salah satu wilayah di Lampung yang menginformasikan kepada sekolah untuk meliburkan siswa kelas X—XI pada hari pengumuman kelulusan. Kami telah surati sekolah-sekolah, agar nanti pada saat pengumuman, siswa memakai baju kebaya atau batik," ujar dia.
dinas terkait, juga minta orang tua agar tidak mengizinkan anaknya menggunakan sepeda motor pada saat pengumuman. Hal ini jelas peran orang tua sangat dibutuhkan, orang tua harus berperan aktif dalam mengawasi anaknya.
"Sebab, nantinya mereka juga yang rugi jika ada anak yang kecelakaan dalam aksi kebut-kebutan. Kami juga minta sekolah memfasilitasi ruang untuk meluapkan rasa syukur siswa yang lulus, bisa dengan mengadakan kegiatan seni, donor darah, atau kegiatan sosial yang lebih positif lagi," kata dia.
Terkait dengan presentase kelulusan, Kepala Dinas Pendidikan di keempat tempt tersebut menargetkan kelulusan siswa SMA mencapai 100%. walau belum tahu hasilnya sampai saat ini, tapi tapi yaki target kami insya Allah 100% lulus tercapai. 

Bagi siswa yang tidak lulus, masih ada kesempatan untuk mengikuti ujian paket C yang digelar di Dinas Pendidikan. (MG1/SAG/S-1)